Sabtu, 03 Desember 2016

3600 Detik - Part 1

Edit Posted by with No comments



3600 Detik
by Charon

Part 1


AKU benci hidupku!!!Sandra berteriak dalam hati sambil memandang langit-langit ruang olahraga . Dia tidak tahu sudah berapa lama berada di sana . Yang jelas, dia sudah membolos pelajaran sejak tadi pagi . Tangan kanannya memegang sebatang rokok . Dia merokok sambil duduk di tepi jendela, mencoba mengingat sudah berapa banyak rokok yang diisapnya . Bibirnya menyunggingkan senyum sinis .
Terus terang dia tidak ingat, sama seperti dia tidak ingat sudah berapa banyak sekolah yang dia masuki sejak tahun lalu . Semuanya tidak pernah bertahan lebih dari sepuluh hari . Sandra sudah tidak pernah mau memedulikan apa pun lagi semenjak ayahnya bercerai dengan ibunya setahun lalu . Padahal dia sangat dekat dengan ayahnya . Dia sama sekali tidak tahu kalau hubungan orangtuanya bermasalah . Jadi tahun lalu tanpa ada tanda apa-apa sebelumnya, Papa menjelaskan bahwa dia ingin bercerai dengan Mama dan pergi ke luar negeri .
Pada saat yang bersamaan, di tempat lain, Leon berjalan memasuki panggung dengan saksama . Ratusan penonton berada di dalam gedung . Leon membungkuk, memberi hormat pada para juri dan penonton . Lalu dia bergerak ke depan piano yang ada di tengah panggung . Leon duduk dengan tenang dan mempersiapkan diri . Tangannya berada di atas tuts . Dia menarik napas beberapa saat sambil menutup matanya . Saat matanya terbuka kembali, jarinya sudah mulai menekan tuts di hadapannya . Dentingan musik Canon In D – Pachebel terdengar ke seluruh gedung .      
Dari dulu Sandra tidak pernah dekat dengan ibunya . Mama sering tidak di rumah, sibuk dengan pekerjaan kantornya . Teman tempat berbagi cerita adalah Papa . Jadi ketika Papa pergi meninggalkannya, dunia Sandra benar-benar hancur . Orang yang paling dia andalkan selama ini telah pergi dari kehidupan
nya . Sandra menutup diri rapat-rapat selama dua minggu .
Keluar kamar hanya kalau mau minum . Makan ia beli dari luar . Tidak bicara . Tidak sekolah . Setelah dua minggu, Sandra mulai keluar dari kamar . Tapi pribadinya berubah total . Dia berangkat sekolah, tapi mulai membolos sekolah, belajar merokok, dan pergi ke kelab sampai dini hari . Mamanya tentu saja marah besar . Tetapi apa pun yang dikatakan ibunya, Sandra tidak pernah mengindahkan . Dia tidak mau peduli lagi .
Padahal dulunya Sandra adalah anak yang berprestasi dan peduli pada orang lain . Sahabatnya mulai menjauhinya, dan Sandra pun harus meninggalkan sekolah lamanya karena sudah membolos selama lebih dari satu bulan . Sejak saat itu ibunya mencoba memindahkan putridnya ke sekolah lain . Tapi tidak ada satu pun sekolah yang pernah ditinggalinya lebih dari sepuluh hari . Para guru kewalahan menghadapinya . Diberi hukuman separah apa pun Sandra tetap tidak peduli, malah hal itu membuatnya lebih nakal lagi . Pernah sekali ibunya mencoba membawa putrinya ke psikiater, tetapi psikiater tersebut juga angkat tangan . Sandra tidak mau berbicara sama sekali . Sedikit pun tidak . Dia hanya menatap sang psikiater dengan pandangan kosong . Sama sekali tidak ada reaksi .
Alunan lagu yang dimainkan Leon membuat semua penonton terpana . Mama dan papanya yang berada di antara penonton menatap anak mereka dengan bangga . Di atas panggung Leon memainkan pianonya dengan serius . Para juri terlihat mengangguk tanda setuju dan berbisik perlahan satu sama lain . Leon menyelesaikan permainannya dengan sempurna . Dia bangkit dan memberi hormat kembali kepada para juri dan penonton .
Sandra berjalan memasuki sekolah barunya . Hari masih pagi . Dia tidak melihat seorang murid pun disekitarnya . Mentari pagi menyinari rambutnya yang dicat merah, sangat sesusai dengan kukunya yang juga dicat warna serupa . Sandra memandang sekolah barunya sepintas lalu . Beberapa kali pun ia pindah sekolah, hasilnya hanya membuatnya semakin kesal . Toh dia sudah tidak berminat sekolah . Sebenarnya Sandra merasa bosan karena harus mengulang pelajaran yang sama di tahun ini, karena tahun kemarin dia tidak lulus ujian SMA .
Mama benarbenar kecewa terhadapnya . Setelah berpikir matang-matang dan karena hotelnya membuka cabang baru, beliau pun memutuskan untuk pindah ke luar kota dan menyekolahkan Sandra di kota baru tersebut . Sandra tahu ibunya berharap awal yang baru dan lingkungan yang baru dapat membuatnya berubah . Sandra berhenti di lorong kelas barunya . “ Jadi ini sekolah baruku! “ katanya dalam hati . Sandra tahu saat itu juga bahwa dia tidak akan bertahan lama . Paling satu atau dua minggu .
Tiba-tiba kupingnya menangkap suara merdu yang mengalun dari ruangan lorong itu . Suara piano itu sangat jernih dan indah, membuat Sandra bergerak mendekati . Di dalam ruangan itu ia melihat seorang murid cowok sedang memainkan piano . Setiap dentingan tuts piano yang dimainkan membuat perasaan Sandra berangsur tenang . Setelah lagu berakhir, Sandra terdiam sambil memandangi pemuda itu . Seolah merasa ada yang memerhatikan, pemain piano tersebut menoleh ke belakang, tatapannya bertemu dengan Sandra . Dia tersenyum . Sandra balas tersenyum sambil menyapa .


*** 1

0 komentar:

Posting Komentar