AKU benci
hidupku!!!Sandra berteriak dalam hati sambil memandang langit-langit ruang olahraga
. Dia tidak tahu sudah berapa lama berada di sana . Yang jelas, dia sudah
membolos pelajaran sejak tadi pagi . Tangan kanannya memegang sebatang rokok . Dia
merokok sambil duduk di tepi jendela, mencoba mengingat sudah berapa banyak
rokok yang diisapnya . Bibirnya menyunggingkan senyum sinis .
Terus terang
dia tidak ingat, sama seperti dia tidak ingat sudah berapa banyak sekolah yang dia
masuki sejak tahun lalu . Semuanya tidak pernah bertahan lebih dari sepuluh
hari . Sandra sudah tidak pernah mau memedulikan apa pun lagi semenjak ayahnya
bercerai dengan ibunya setahun lalu . Padahal dia sangat dekat dengan ayahnya .
Dia sama sekali tidak tahu kalau hubungan orangtuanya bermasalah . Jadi tahun
lalu tanpa ada tanda apa-apa sebelumnya, Papa menjelaskan bahwa dia ingin
bercerai dengan Mama dan pergi ke luar negeri .
Pada saat
yang bersamaan, di tempat lain, Leon berjalan memasuki panggung dengan saksama .
Ratusan penonton berada di dalam gedung . Leon membungkuk, memberi hormat pada
para juri dan penonton . Lalu dia bergerak ke depan piano yang ada di tengah
panggung . Leon duduk dengan tenang dan mempersiapkan diri . Tangannya berada
di atas tuts . Dia menarik napas beberapa saat sambil menutup matanya . Saat
matanya terbuka kembali, jarinya sudah mulai menekan tuts di hadapannya . Dentingan
musik Canon In D – Pachebel terdengar ke seluruh gedung .
Dari dulu
Sandra tidak pernah dekat dengan ibunya . Mama sering tidak di rumah, sibuk
dengan pekerjaan kantornya . Teman tempat berbagi cerita adalah Papa . Jadi
ketika Papa pergi meninggalkannya, dunia Sandra benar-benar hancur . Orang yang
paling dia andalkan selama ini telah pergi dari kehidupan
nya . Sandra
menutup diri rapat-rapat selama dua minggu .
Keluar kamar
hanya kalau mau minum . Makan ia beli dari luar . Tidak bicara . Tidak sekolah .
Setelah dua minggu, Sandra mulai keluar dari kamar . Tapi pribadinya berubah
total . Dia berangkat sekolah, tapi mulai membolos sekolah, belajar merokok,
dan pergi ke kelab sampai dini hari . Mamanya tentu saja marah besar . Tetapi
apa pun yang dikatakan ibunya, Sandra tidak pernah mengindahkan . Dia tidak mau
peduli lagi .
Padahal dulunya
Sandra adalah anak yang berprestasi dan peduli pada orang lain . Sahabatnya
mulai menjauhinya, dan Sandra pun harus meninggalkan sekolah lamanya karena
sudah membolos selama lebih dari satu bulan . Sejak saat itu ibunya mencoba memindahkan
putridnya ke sekolah lain . Tapi tidak ada satu pun sekolah yang pernah
ditinggalinya lebih dari sepuluh hari . Para guru kewalahan menghadapinya . Diberi
hukuman separah apa pun Sandra tetap tidak peduli, malah hal itu membuatnya lebih
nakal lagi . Pernah sekali ibunya mencoba membawa putrinya ke psikiater, tetapi
psikiater tersebut juga angkat tangan . Sandra tidak mau berbicara sama sekali .
Sedikit pun tidak . Dia hanya menatap sang psikiater dengan pandangan kosong . Sama
sekali tidak ada reaksi .
Alunan lagu
yang dimainkan Leon membuat semua penonton terpana . Mama dan papanya yang berada
di antara penonton menatap anak mereka dengan bangga . Di atas panggung Leon
memainkan pianonya dengan serius . Para juri terlihat mengangguk tanda setuju
dan berbisik perlahan satu sama lain . Leon menyelesaikan permainannya dengan
sempurna . Dia bangkit dan memberi hormat kembali kepada para juri dan penonton
.
Sandra
berjalan memasuki sekolah barunya . Hari masih pagi . Dia tidak melihat seorang
murid pun disekitarnya . Mentari pagi menyinari rambutnya yang dicat merah,
sangat sesusai dengan kukunya yang juga dicat warna serupa . Sandra memandang
sekolah barunya sepintas lalu . Beberapa kali pun ia pindah sekolah, hasilnya
hanya membuatnya semakin kesal . Toh dia sudah tidak berminat sekolah . Sebenarnya
Sandra merasa bosan karena harus mengulang pelajaran yang sama di tahun ini,
karena tahun kemarin dia tidak lulus ujian SMA .
Mama
benarbenar kecewa terhadapnya . Setelah berpikir matang-matang dan karena hotelnya
membuka cabang baru, beliau pun memutuskan untuk pindah ke luar kota dan
menyekolahkan Sandra di kota baru tersebut . Sandra tahu ibunya berharap awal
yang baru dan lingkungan yang baru dapat membuatnya berubah . Sandra berhenti
di lorong kelas barunya . “ Jadi ini sekolah baruku! “ katanya dalam hati . Sandra
tahu saat itu juga bahwa dia tidak akan bertahan lama . Paling satu atau dua
minggu .
Tiba-tiba
kupingnya menangkap suara merdu yang mengalun dari ruangan lorong itu . Suara
piano itu sangat jernih dan indah, membuat Sandra bergerak mendekati . Di dalam
ruangan itu ia melihat seorang murid cowok sedang memainkan piano . Setiap
dentingan tuts piano yang dimainkan membuat perasaan Sandra berangsur tenang . Setelah
lagu berakhir, Sandra terdiam sambil memandangi pemuda itu . Seolah merasa ada
yang memerhatikan, pemain piano tersebut menoleh ke belakang, tatapannya
bertemu dengan Sandra . Dia tersenyum . Sandra balas tersenyum sambil menyapa .
*** 1
AKU benci
hidupku!!!Sandra berteriak dalam hati sambil memandang langit-langit ruang olahraga
. Dia tidak tahu sudah berapa lama berada di sana . Yang jelas, dia sudah
membolos pelajaran sejak tadi pagi . Tangan kanannya memegang sebatang rokok . Dia
merokok sambil duduk di tepi jendela, mencoba mengingat sudah berapa banyak
rokok yang diisapnya . Bibirnya menyunggingkan senyum sinis .
Terus terang
dia tidak ingat, sama seperti dia tidak ingat sudah berapa banyak sekolah yang dia
masuki sejak tahun lalu . Semuanya tidak pernah bertahan lebih dari sepuluh
hari . Sandra sudah tidak pernah mau memedulikan apa pun lagi semenjak ayahnya
bercerai dengan ibunya setahun lalu . Padahal dia sangat dekat dengan ayahnya .
Dia sama sekali tidak tahu kalau hubungan orangtuanya bermasalah . Jadi tahun
lalu tanpa ada tanda apa-apa sebelumnya, Papa menjelaskan bahwa dia ingin
bercerai dengan Mama dan pergi ke luar negeri .
Pada saat
yang bersamaan, di tempat lain, Leon berjalan memasuki panggung dengan saksama .
Ratusan penonton berada di dalam gedung . Leon membungkuk, memberi hormat pada
para juri dan penonton . Lalu dia bergerak ke depan piano yang ada di tengah
panggung . Leon duduk dengan tenang dan mempersiapkan diri . Tangannya berada
di atas tuts . Dia menarik napas beberapa saat sambil menutup matanya . Saat
matanya terbuka kembali, jarinya sudah mulai menekan tuts di hadapannya . Dentingan
musik Canon In D – Pachebel terdengar ke seluruh gedung .
Dari dulu
Sandra tidak pernah dekat dengan ibunya . Mama sering tidak di rumah, sibuk
dengan pekerjaan kantornya . Teman tempat berbagi cerita adalah Papa . Jadi
ketika Papa pergi meninggalkannya, dunia Sandra benar-benar hancur . Orang yang
paling dia andalkan selama ini telah pergi dari kehidupan
nya . Sandra
menutup diri rapat-rapat selama dua minggu .
Keluar kamar
hanya kalau mau minum . Makan ia beli dari luar . Tidak bicara . Tidak sekolah .
Setelah dua minggu, Sandra mulai keluar dari kamar . Tapi pribadinya berubah
total . Dia berangkat sekolah, tapi mulai membolos sekolah, belajar merokok,
dan pergi ke kelab sampai dini hari . Mamanya tentu saja marah besar . Tetapi
apa pun yang dikatakan ibunya, Sandra tidak pernah mengindahkan . Dia tidak mau
peduli lagi .
Padahal dulunya
Sandra adalah anak yang berprestasi dan peduli pada orang lain . Sahabatnya
mulai menjauhinya, dan Sandra pun harus meninggalkan sekolah lamanya karena
sudah membolos selama lebih dari satu bulan . Sejak saat itu ibunya mencoba memindahkan
putridnya ke sekolah lain . Tapi tidak ada satu pun sekolah yang pernah
ditinggalinya lebih dari sepuluh hari . Para guru kewalahan menghadapinya . Diberi
hukuman separah apa pun Sandra tetap tidak peduli, malah hal itu membuatnya lebih
nakal lagi . Pernah sekali ibunya mencoba membawa putrinya ke psikiater, tetapi
psikiater tersebut juga angkat tangan . Sandra tidak mau berbicara sama sekali .
Sedikit pun tidak . Dia hanya menatap sang psikiater dengan pandangan kosong . Sama
sekali tidak ada reaksi .
Alunan lagu
yang dimainkan Leon membuat semua penonton terpana . Mama dan papanya yang berada
di antara penonton menatap anak mereka dengan bangga . Di atas panggung Leon
memainkan pianonya dengan serius . Para juri terlihat mengangguk tanda setuju
dan berbisik perlahan satu sama lain . Leon menyelesaikan permainannya dengan
sempurna . Dia bangkit dan memberi hormat kembali kepada para juri dan penonton
.
Sandra
berjalan memasuki sekolah barunya . Hari masih pagi . Dia tidak melihat seorang
murid pun disekitarnya . Mentari pagi menyinari rambutnya yang dicat merah,
sangat sesusai dengan kukunya yang juga dicat warna serupa . Sandra memandang
sekolah barunya sepintas lalu . Beberapa kali pun ia pindah sekolah, hasilnya
hanya membuatnya semakin kesal . Toh dia sudah tidak berminat sekolah . Sebenarnya
Sandra merasa bosan karena harus mengulang pelajaran yang sama di tahun ini,
karena tahun kemarin dia tidak lulus ujian SMA .
Mama
benarbenar kecewa terhadapnya . Setelah berpikir matang-matang dan karena hotelnya
membuka cabang baru, beliau pun memutuskan untuk pindah ke luar kota dan
menyekolahkan Sandra di kota baru tersebut . Sandra tahu ibunya berharap awal
yang baru dan lingkungan yang baru dapat membuatnya berubah . Sandra berhenti
di lorong kelas barunya . “ Jadi ini sekolah baruku! “ katanya dalam hati . Sandra
tahu saat itu juga bahwa dia tidak akan bertahan lama . Paling satu atau dua
minggu .
Tiba-tiba
kupingnya menangkap suara merdu yang mengalun dari ruangan lorong itu . Suara
piano itu sangat jernih dan indah, membuat Sandra bergerak mendekati . Di dalam
ruangan itu ia melihat seorang murid cowok sedang memainkan piano . Setiap
dentingan tuts piano yang dimainkan membuat perasaan Sandra berangsur tenang . Setelah
lagu berakhir, Sandra terdiam sambil memandangi pemuda itu . Seolah merasa ada
yang memerhatikan, pemain piano tersebut menoleh ke belakang, tatapannya
bertemu dengan Sandra . Dia tersenyum . Sandra balas tersenyum sambil menyapa .
*** 1



0 komentar:
Posting Komentar