Rabu, 18 Juli 2018

3600 Detik - Part 3

Edit Posted by with No comments




3600 Detik
by Charon

Part 3

Pulang sekolah, Sandra terkejut melihat ibunya sudah menunggunya.
“Jadi, bagaimana hari pertamamu?” tanya Mama.
Sandra menatap ibunya tanpa ekspresi.
“Kau masih tidak mau bicara sama Mama?”
Sandra tetap diam.
“Mama mengerti kau sedih. Tapi setidaknya bicaralah pada Mama. Sudah hampir satu tahun kelakuanmu tidak berubah. Mama peduli padamu!”
“Benarkah?” tanya Sandra.
“Ya! Tentu saja, Sandra! Bagaimanapun kau anak Mama!”
“Mama lebih peduli pada pekerjaan Mama daripada aku!” jawab Sandra ketus.
“Itu tidak benar!” kata Mama keras.
“Tentu saja itu benar! Itu sebabnya Papa pergi meninggalkan Mama!”
“Sandra! Cukup!”
“Mama ingin aku mengatakan perasaanku?” balas Sandra. “Oke! Aku tidak sedih, aku marah. Aku marah pada Papa karena dia meninggalkan aku, dan aku marah pada Mama karena membuatku tinggal di sini! Besok. Puas?”
Sandra berlari keluar sambil membanting pintu depan.
Dua jam kemudian, Sandra menatap dirinya di cermin kamar mandi sebuah mal. Dia baru saja menindik hidungnya dengan anting-anting kecil. Sandra yakin teman-teman sekolahnya akan sangat terkejut.
Sandra keluar dari kamar mandi dan berjalan-jalan di dalam mal. Dia melihat toko musik dan memasukinya. Pandangan matanya jatuh pada sebuah CD dan dia mengambilnya. Tiba-tiba saja Sandra mendapat ide. Dia akan membawa CD itu keluar dengan sengaja dan membiarkan dirinya tertangkap. Pasti Mama akan sangat marah padanya.
Sandra keluar membawa CD di tangannya Tiba-tiba seorang satpam menghampirinya. “Maaf.”Katanya.”Tapi anda belum membayar CD yang anda bawa!”
Sandra tersenyum manis.”Memang! Jadi kenapa?”
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.”Di sini kau rupanya!”
Sandra menatap orang yang menepuk pundaknya. Si pemain piano sekolahnya lagi.
Leon menatap Sandra sambil tersenyum. Dia sudah memerhatikan Sandra sejak tadi. Dia tahu Sandra melakukan hal tadi dengan sengaja.
“Maaf, Pak!”lanjut Leon.”Dia teman saya! Saya menyuruhnya membawakan CD ini ke kasir, tapi sepertinya dia kelupaan dan berjalan ke pintu keluar!”
Si satpam terlihat curiga.”Apa benar begitu?”
Saat Sandra mau bicara, Leon langsung memotongnya.”Ya benar! Lagi pula kalau dia memang berniat mencuri CD, kenapa dia tidak memasukkannya saja ke tas biar tidak terlihat? Teman saya ini malah membawanya secara terang-terangan.”
Sandra benar-benar terlihat kesal. Leon mengambil CD di tangannya.
“Kalau begitu saya bayar dahulu CD ini, Pak! Sekali lagi saya minta maaf!”Leon berkata dengan tulus. Pak satpam tersenyum padanya.
“Tidak apa-apa!”katanya.
Leon berjalan ke arah kasir.
Saat keluar dari toko musik, Sandra mencekal lengan Leon.
“Heh! Kurang kerjaan, ya?”teriaknya.”Untuk apa ikut campur urusan orang?”
Leon tersenyum.”Seharusnya kau bilang terima kasih dan aku akan membalasnya dengan bilang sama-sama!”
Sandra berkacak pinggang.”Dengar, ya! Aku tidak suka orang sepertimu! Aku hanya akan memperingatkan sekali ini saja! Jangan ikut campur urusanku, atau kau akan menyesal!”
Leon hanya berdiri dengan tenang.
“Heh! Dengar tidak?”teriak Sandra lagi.Leon menganguk.
Sandra memandang Leon dengan bingung.”Kenapa dia hanya diam seperti patung?”pikirnya.
“Kau ngerti maksudku nggak?”seru Sandra lagi.
Leon mengangguk untuk kedua kalinya.Sandra menjadi semakin bingung.”Mana suaramu? Kenapa sekarang kau cuma diam? Mendadak bisu, ya?”
Leon menggeleng.
“Jadi kenapa diam sekarang?”
Benar-benar orang aneh, kata Sandra dalam hati. Tadi di toko musik bicara panjang lebar, sekarang malah diam seribu bahasa.
“Kenapa? Kau sakit?”tanya Sandra, suaranya agak mlelembut.
Pertanyaan itu membuat Leon terkejut sejenak, akhirnya ia mengangguk.
“Pokoknya aku tidak mau kau ikut campur urusanku lagi!! Awas saja!”
Sandra pergi meninggalkan Leon.

Senin, 09 Juli 2018

Part 1 - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye

Edit Posted by with No comments



Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
by Tere Liye



Part 1


Pukul 20.00: Saat Semuanya Berawal
MALAM ini hujan turun lagi. Seperti malam-malam yang lalu. Menyenangkan. Membuat suasana di luar terlihat damai menenteramkan. Tidak deras benar. Hanya gerimis. Itu pun jarang-jarang, tetapi cukup untuk membuat indah kerlip lampu. Aku menghela napas panjang. Tanganku pelan menyentuh kaca yang berembun. Dingin seketika menyergap ujung jari, mengalir ke telapak tangan, melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian tiba di hatiku. Membekukan seluruh perasaan. Mengkristalkan semua keinginan.
 Malam ini, semua cerita harus usai.   Dari lantai dua toko buku paling besar di kota ini, kalian bisa melihat dengan leluasa pemandangan jalan besar yang ramai persis di depannya, juga jalan paling besar di kota ini. Jalan itu dibelah pembatas setinggi satu jengkal. Ada lampu putih bundar setiap beberapa meter di pembatas jalan itu, serta pot semen dengan rumpun bunga, meskipun terlihat tak cukup rimbun. Lampu putih bundar itulah yang terlihat indah. Berbaur dengan ratusan siluet cahaya lampu mobil. Dinding tembok toko buku ini diganti seluruhnya menjadi kaca-kaca tebal. Berdiri tepekur di sini, kalian bak masuk dalam sebuah akuarium. Bebas memandang, bebas dipandang.
Arsitektur gaya avant-garde. Kaca, bukan beton, menjadi pilihan terbaik pembatas ruangan. Di seberang jalan berjejer rapi gerai fotokopian yang besar dan modern. Lampu neon puluhan watt, meja panjang untuk menerima forokopian, dan karyawan-karyawan berseragam terlihat jelas dari atas sini. Beberapa orang berpenampilan sebagaimana layaknya mahasiswa, terlihat menunggu di kursi putar tinggi. Mungkin menunggu fotokopian untuk bahan ujian besok lusa. Mungkin pula menunggu hujan reda. Ada sebuah motor merapat. Dua penumpangnya turun sambil melepas jas hujan. Sepasang. Yang wanita berkerudung putih. Yang lelaki merengkuh bahunya.
Mereka masuk ke salah satu gerai fotokopian. Tak mungkin mereka akan memfotokopi "undangan pernikahan" di gerai itu, tetapi cukup sudah untuk mengerti betapa mesranya mereka. Aku menghela napas panjang. Beberapa angkot biru seperti biasa berhenti di bibir jalan semaunya, Menurunkan penumpang semaunya. Membuat lebih panjang lagi kemacetan malam ini. Sopir angkot itu sedikit pun tak peduli, meski klakson mobil di belakangnya menyalak buas. Penumpang juga semaunya mengembangkan payung sebelum kaki melangkah turun dari mobil. Membuat penumpang lain yang terkena terpaan payung mengomel.
Namun, ada yang diuntungkan oleh kejadian itu. Beberapa remaja tanggung yang bergerombol di seberang jalan yang hendak menyeberang. Angkot yang berhenti semaunya itu membantu mereka. Bergeraklah iringan ketawa-ketiwi itu. Malam Minggu. Mereka punya banyak alasan untuk keluar rumah. Warung-warung tenda makanan memadati jalan sepanjang mata memandang, Dipenuhi anak muda yang datang dua-tiga.
Cuaca dingin dan rinai hujan membuat kepulan asap dari kuali nasi goreng, tungku bakar sate, panci soto, dandang ayam sayur, dan puluhan jenis masakan lainnya amat mengundang selera. Sayang, malam ini aku sama sekali tidak lapar! Dari lantai dua ini, kalian juga bisa melihat pekerja konstruksi bakal town square dua ratus meter di sisi kiri gerai fotokopian tadi. Lampu besar bekerlap-kerlip dari belalai peralatan yang menarik-turunkan besi-besi, batu bata, dan bahan bangunan lainnya. Para pekerja yang memakai helm tak peduli dengan hujan. Mereka sedang mengejar target peresmian enam bulan lagi. Bersaing dengan dua pusat perbelanjaan lainnya yang serempak dibangun.

Part 2 - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye

Edit Posted by with No comments



Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
by Tere Liye



Part 2

Kota ini maju sekali, meskipun itu harus dibayar dengan berbagai ketidaknyamanan. Siapa yang peduli? Di depan sana juga terlihat dua toko cuci-cetak foto. Sebenarnya pemiliknya satu. Alasan bisnis, terpaksa dibelah dua. Toko sebelah kanan menjadi dealer resmi raksasa negatif film dan kamera dari Negeri Sakura. Toko sebelah kiri menjadi authorized dealer raksasa negatif film dan kamera dari Amerika. Beberapa remaja berkumpul ramai di sana. Mungkin hendak foto dose-up. Belakangan audisi menyanyi, model, bintang sinetron, dan berbagai reality show di teve marak lagi. Dan foto penuh gaya mutlak menjadi jalan pembuka. Mimpi-mimpi kehidupan.
Lima belas menit aku masih berdiri menatap keramaian di seberang jalan. Toko buku ini memutar lagu ringan dengan tempo lambat. Licik memang. Lagu jenis itu disengaja. Juga oleh kebanyakan toko-toko retail modern besar lainnya, seperti supermarket dan toserba. Apalagi kalau bukan untuk menyugesti pengunjung sehingga berbetah-betah berkeliling dan belanja lebih banyak. Berbeda kalau kalian datang ke restoran cepat saji. Mereka akan memutar lagu-lagu cepat. Mengondisikan agar kalian makan cepat-cepat dan segera enyah dari restoran mereka. Karena ada banyak tamu yang membutuhkan meja kosong sedang menunggu di luar, apalagi saat lunch hour atau dinner, musik yang mereka putar semakin cepat. Sama culasnya dengan toko buku ini.
Aku tak tahu gerai fotokopian itu sedang memutar lagu apa. Yang pasti, pasangan tadi sekarang duduk saling merapat di depan meja panjang. Saling berhadapan. Bersiracap. Berbicara dengan gerak tubuh yang begitu mudah dimengerti. Tak memedulikan tatapan karyawan berseragam, apalagi mahasiswa yang duduk di kursi tinggi sebelahnya. Mesra. Aku menelan ludah. Itu berarti musik cinta. Ah, sudahlah!   Setiap malam aku datang ke toko buku ini. Sudah menjadi ritual seminggu terakhir. Satpam toko yang matanya selalu menatap tajam sudah mengenaliku.
Mbak-mbak yang rajin merapikan buku-buku di rak juga sudah tahu. Termasuk dua kasir di dekat eskalator yang berjaga bergantian. Aku membeli satu buku setiap kali ke sini. Bukan buku yang hendak kubaca. Anggap saja sebagai tiket harga masuk karena telah menggunakan lantai dua mereka sebagai tempat menumpahkan segala perasaan. Tempatku tepekur mengenang segalanya. Semua masa lalu itu. Tempat ini menyenangkan. Berjalan-jalan di sepanjang rak buku. Menyentuh satu-dua buku. Membaca sampul belakangnya, membuka-buka buku yang tidak dibungkus plastik.
Menatap pengunjung lain yang sibuk, sedikit-banyak membantuku berdamai dengan perasaan masa lalu. Tempat ini benar-benar berarti banyak bagiku. Menyimpan kenangan penting. "Sendirian, Mbak?" seorang karyawan cowok toko buku basa-basi menegurku. Dia pura-pura membenahi tumpukan bukubelajar-membaca yang sebenarnya sudah sempurna tersusun rapi dua langkah di sebelah kananku. Aku menyeringai datar. Pertanyaan itu pura-pura. Aku tahu persis. Dia tahu, seperti karyawan toko buku lainnya, setiap malam aku datang ke sini selalu sendirian.
Jadi buat apa bertanya? Buat apa? Akhirnya malam ini dia berani juga menyapa. Aku tahu seminggu terakhir dia selalu mencuricuri pandang. Purapura berada di sekitarku saat aku berdiri menatap pemandangan di luar. Dia pasti sudah meneguhkan hati sepanjang sore hanya untuk mengeluarkan suara dan raut muka seregang ini. Membujuk hatinya sepanjang minggu agar berani menegur seorang gadis yang memesonanya. Tak ada salahnya memberikan hadiah atas keberaniannya. Maka aku tersenyum tipis, teramat tipis malah, sedikit menoleh meski tak menatap matanya. Lantas dengan cepat kembali memandang ke depan. Aku sama sekali tak berselera diganggu olehnya. Cowok itu menarik napas pelan. Tersenyum tanggung. Lantas undur diri pelan-pelan. Menunduk.
Aku tak tahu bagaimana kehadiranku setiap malam di toko buku ini bisa menarik perhatiannya. Dan mungkin membuatnya resah sepanjang minggu terakhir. Sama tidak mengertinya saat salah seorang teman lamaku, Adi, melakukan sesuatu yang lebih gila lagi daripada sekadar sapaan cowok tadi setahun silam. Di toko buku ini juga. Waktu itu sama seperti sekarang, musim hujan. Hujan deras turun membungkus kota ini. Suara jutaan butir air yang menghunjam bumi terdengar keras hingga ke dalam. Adi yang "kebetulan" menemaniku berkeliling mencari novel karangan seseorang tiba-tiba menarik tanganku. "Ada yang ingin kutunjukkan padamu!"
Adi menatapku serius. Wajahnya tegang dan cemas, sama seperti cowok yang tadi. "Apa?" Aku mengernyitkan dahi, tidak berselera. "Ayo!" Adi menyeretku, enggan menjelaskan. Aku terpaksa mengikuti. Tarikan tangannya mengencang. Turun ke lantai satu, aku membuntuti dengan tatapan semakin heran saat dia terus menuju hingga keluar toko buku. "Mau ke mana?" aku bertanya penasaran. Adi tak menjawab. Dia melangkah menuju pelataran depan toko buku sambil tetap menarik tanganku. "Payungnya!" Aku mencoba bertahan. Maksudku hendak mengambil payung di penitipan barang. Pelataran itu sedang buncah oleh air hujan.
Bagaimana mungkin menerabasnya? Adi menoleh menggeleng. Tak usah. Aku semakin bingung. Adi berhasil menarikku ke dalam tumpah ruahnya hujan yang membasahi tepi jalan Margonda. Basah kuyup. Dia memegang lenganku. Kami berdiri berhadapan. Aku tak mengerti apa maksud semua ini. Orang-orang yang berdiri di sepanjang jalan sambil membawa payung memperhatikan kami. Orang-orang yang berdiri dan menatap di lantai dua toko buku, yang di bawah di lobi toko buku, yang di gerai fotokopian seberang, dan yang duduk di warung tenda... menatap kami lamat-lamat.

Sinopsis - Tere Liye - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Edit Posted by with No comments


Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
by Tere Liye


Sinopsis


Daun yang jatuh tak pernah membenci angin... Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah.... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.



Novel ini mengisahkan kehidupan kakak beradik Tania dan Dede yang harus putus sekolah dan menjadi pengamen karena keterbatasan ekonomi keluarga sepeninggal ayah mereka. Mereka berdua tinggal di rumah kardus dengan ibu mereka yang sakit-sakitan.

Kehidupan mereka berubah setelah bertemu dengan seorang pria bernama Danar. Danar adalah seorang karyawan yang juga penulis buku anak-anak. Danar begitu baik sehingga keluarga ini menganggapnya seperti malaikat. Tania sangat mengagumi Danar karena selain baik, dia juga punya wajah yang menawan.

Suatu ketika Danar memberikan mereka rumah kontrakan sehingga Tania, Dede dan ibunya tidak perlu lagi tinggal di rumah kardus. Tania dan Dede bisa kembali sekolah dan ibunya berjualan kue. Mereka pun semakin dekat seperti keluarga. Suasana agak berubah ketika danar membawa teman dekatnya yang bernama Ratna. Tania merasa cemburu, ia tidak suka melihat kedekatan Danar dengan Ratna. Rasa tidak suka itu bukan sekedar perasaan iri seorang adik tapi Tania kecil belum bisa menerjemahkan apa arti perasaan itu.

Kebahagiaan mereka berkurang saat ibu Tania meninggal. Berat sekali bagi Tania menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah tiada dan sekarang ia yang harus bertanggung jawan menjaga adiknya. Untung saja ada Danar yang selalu berada di samping mereka. Tania tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Ia berhasil mendapatkan beasiswa ke Singapura. Sederet prestasi berhasil ia raih dalam studinya. Semua pengalaman hidup yang telah Tania alami menjadikannya lebih dewasa dari gadis-gadis lain seumurannya. Perasaannya terhadap Danar juga semakin jelas. Lambat laun Tania tahu, perasaan itu bernama cinta.

Tapi cinta Tania terhadap danar tidaklah mudah. Bertahun-tahun mereka bersama dalam status kakak adik, terlebih lagi mereka terpaut usia 14 tahun. Bagi ABG seperti Tania, jatuh cinta kepada pria yang jauh lebih tua darinya cukup membuatnya pusing. Sisi remajanya membuatnya ingin mengekspresikan perasaannya meskipun ia tidak tahu apakah Danar memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Keadaan semakin sulit saat Danar memutuskan untuk menikah dengan Ratna. Tania patah hati. Ia memutuskan untuk tidak hadir dalam pernikahan mereka meskipun Danar dan Ratna telah membujuknya.

Beberapa waktu berselang, Tania tahu bahwa kehidupan rumah tangga Danar dan Ratna tidak bahagia. Ratna bercerita kepada Tania bahwa Danar telah banyak berubah. Danar menjadi pendiam dan seringkali tidak berada di rumah. Ratna tahu ada sesuatu yang menghalangi mereka, ada seseorang di antara ia dan Danar tapi ia tidak pernah tahu siapakah bayangan itu. Dari cerita Dede akhirnya Tania tahu bahwa Danar juga mencintai Tania. Danar menuliskan perasaannya dalam novel “Cinta Pohon Linden” yang tidak pernah selesai ia tulis. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat Danar merasa tidak pantas mencintai Tania. Tidak seharusnya ia mencintai gadis kecil seperti Tania.
Ketika Tania dan Danar sama-sama tahu perasaan mereka masing-masing, semua sudah terlambat. Biar bagaimanapun Danar telah menikah dengan Ratna. Akhirnya Tania kembali ke Singapura dan memutuskan untuk meninggalkan semua cerita cintanya.

3600 Detik - Part 2

Edit Posted by with No comments


3600 Detik
by Charon

Part 2


 “ Hai! “ Sandra memerhatikan cowok itu dari atas sampai bawah .
 Pakaiannya sangat rapi, rambutnya juga dipotong pendek di atas kerah . Sangat kontras dengan Sandra yang berantakan .
“ Tipe murid baik! “ desahnya dalam hati .
“ Eh, kau murid baru, ya? “ tanya cowok itu . “ Rasanya aku belum pernah melihatmu!”
 Sandra tersenyum kecil . “ Ya! Baru pindah hari ini! “
“ Kalau begitu, selamat datang! “ katanya lagi .
Sandra mendesah . Dia tidak mau bergaul dengan murid seperti cowok di hadapannya . Terlalu membosankan .
“ Nggak usah bersikap ramah! “ tegas Sandra .
Kata-kata itu membuat si pemain piano kaget . “ Kenapa? “
Sandra menatapnya tajam .
“ Kau akan tahu satu atau dua minggu lagi, saat kau mengucapkan selamat tinggal padaku! “
Setelah itu Sandra membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan . Sementara itu Leon, si pemain piano, tertawa perlahan, Baru kali ini dia bertemu cewek yang sikapnya lain dari yang lain . Ketika bel tanda masuk berbunyi, Sandra melenggang masuk kelas dengan santai . Teman-teman sekelasnya menoleh ke arahnya dengan tatapan ingin tahu . Sandra yakin mereka pasti akan membicarakan dirinya seharian ini .
Matanya melirik pakaian seragam yang dikenakan teman-teman perempuannya . Semua baju seragam dimasukkan ke dalam rok dengan rapi, dan di pinggang mereka melingkar ikat pinggang hitam serupa . Rupanya Mama Sandra telah memasukkan dia ke sekolah beretiket tinggi . Sandra jadi ingin tersenyum sendiri . Pak Donny, guru wali kelas 3 IPA2, yang juga guru fisika, mengenalkan Sandra pada teman-teman sekelasnya .
“ Ada yang mau kau sampaikan, Sandra? “ lanut Pak Donny . Ia sudah tahu bahwa murid baru ini murid bermasalah .
 Sandra menjawab dengan singkat . “ Tidak . “
Pak Donny sedikit terkejut . “ Tidak ada? Tidak mau menjelaskan tentang hobimu atau yang lainnya? “
Sandra memandang Pak Donny dengan tatapan bosan . “ Tidak! “
“ Baiklah . “ Kata Pak Donny, menyerah . “ Kau boleh duduk . “
 Ketika Sandra berjalan ke arah tempat duduknya, Pak Donny melihat blus seragam Sandra yang setengah keluar dari roknya .
“ Sandra! “ katanya lagi . “ Bisakah kau merapikan pakaian seragammu? “
Guru wali kelas yang cerewet sekali! Keluh Sandra dalam hati . Sandra menoleh ke arah Pak Donny, lalu dengan tenang sengaja mengeluarkan seluruh blus seragamnya dari roknya .
Setelah itu dia duduk di tempat duduknya . Pak Donny mendesah melihat tingkah laku murid barunya itu tetapi tidak mengatakan apaapa . Tak berapa lama kemudian dia sibuk menjelaskan rumus rumus di papan tulis . Sandra mendengarkan penjelasan tersebut sambil menguap lebar . Hari ini bakal lama sekali, pikir Sandra tidak senang .
Pelajaran olahraga adalah satu-satunya pelajaran yang menarik minat Sandra. Dia tidak perlu merasa bosan mendengarkan rumus-rumus aneh di dalam ruangan sementara semua orang memperhatikan sang guru. Sandra lebih suka udara terbuka. Dan satu-satunya kesempatan hanya saat pelajaran olahraga. Dia memukul bola voli di tangannya keraskeras. Bola tersebut melambung tinggi ke daerah lawan dan jatuh tanpa ada yang bisa mengembalikkannya. Sandra tertawa.
Dia suka saat-saat seperti ini. Sandra menutup matanya dan menghirup udara segar. Setelah itu dibukanya mata dan tanpa sengaja tatapannya beradu dengan seseorang. Si cowok pemain piano itu memerhatikan dirinya dari lantai dua gedung sekolah. Sandra tidak senang kalau ada orang yang diam-diam memerhatikannya. Dibalasnya tatapan cowok itu dengan sinis. Sandra mengalihkan pandangannya pada teman di sebelahnya.
“Hei!” katanya.
“Kau tahu nama cowok itu?”
Temannya, yang memang agak takut dengan perangai Sandra, langsung menjawab. “Ya. Leon!“
 Sandra menatap cowok yang bernama Leon itu sekali lagi dan memberikan tatapan peringatan padanya. Saat Sandra mendapat giliran untuk serve bola, dia melambungkan bola tersebut tepat ke arah muka Leon. Di lantai dua, dalam perjalannya kembali dari toilet, Leon tidak menyangka akan melihat si Rambut Merah yang ditemuinya tadi pagi di lapangan voli. Ia menatap gadis itu.
Namun gadis itu marah dan melambungkan bola ke arahnya. Sesaat sebelum bola tersebut mengenai mukanya, Leon menghindar. Bola tersebut jatuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian dia mengambil bola voli tersebut dan menatap si Rambut Merah. Dengan tenang dilemparkannya bola tersebut padanya sambil tersenyum, lalu masuk ke kelasnya. Sandra dengan segera menangkap bola tersebut dengan wajah kesal.

*** 2