3600 Detik
by Charon
Pulang sekolah, Sandra terkejut melihat ibunya sudah
menunggunya.
“Jadi, bagaimana hari pertamamu?” tanya Mama.
Sandra menatap ibunya tanpa ekspresi.
“Kau masih tidak mau bicara sama Mama?”
Sandra tetap diam.
“Mama mengerti kau sedih. Tapi setidaknya bicaralah pada
Mama. Sudah hampir satu tahun kelakuanmu tidak berubah. Mama peduli padamu!”
“Benarkah?” tanya Sandra.
“Ya! Tentu saja, Sandra! Bagaimanapun kau anak Mama!”
“Mama lebih peduli pada pekerjaan Mama daripada aku!” jawab
Sandra ketus.
“Itu tidak benar!” kata Mama keras.
“Tentu saja itu benar! Itu sebabnya Papa pergi meninggalkan
Mama!”
“Sandra! Cukup!”
“Mama ingin aku mengatakan perasaanku?” balas Sandra. “Oke!
Aku tidak sedih, aku marah. Aku marah pada Papa karena dia meninggalkan aku,
dan aku marah pada Mama karena membuatku tinggal di sini! Besok. Puas?”
Sandra berlari keluar sambil membanting pintu depan.
Dua jam kemudian, Sandra menatap dirinya di cermin kamar
mandi sebuah mal. Dia baru saja menindik hidungnya dengan anting-anting kecil.
Sandra yakin teman-teman sekolahnya akan sangat terkejut.
Sandra keluar dari kamar mandi dan berjalan-jalan di dalam
mal. Dia melihat toko musik dan memasukinya. Pandangan matanya jatuh pada
sebuah CD dan dia mengambilnya. Tiba-tiba saja Sandra mendapat ide. Dia akan
membawa CD itu keluar dengan sengaja dan membiarkan dirinya tertangkap. Pasti Mama
akan sangat marah padanya.
Sandra keluar membawa CD di tangannya Tiba-tiba seorang
satpam menghampirinya. “Maaf.”Katanya.”Tapi anda belum membayar CD yang anda
bawa!”
Sandra tersenyum manis.”Memang! Jadi kenapa?”
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.”Di sini kau
rupanya!”
Sandra menatap orang yang menepuk pundaknya. Si pemain
piano sekolahnya lagi.
Leon menatap Sandra sambil tersenyum. Dia sudah
memerhatikan Sandra sejak tadi. Dia tahu Sandra melakukan hal tadi dengan
sengaja.
“Maaf, Pak!”lanjut Leon.”Dia teman saya! Saya menyuruhnya
membawakan CD ini ke kasir, tapi sepertinya dia kelupaan dan berjalan ke pintu
keluar!”
Si satpam terlihat curiga.”Apa benar begitu?”
Saat Sandra mau bicara, Leon langsung memotongnya.”Ya
benar! Lagi pula kalau dia memang berniat mencuri CD, kenapa dia tidak
memasukkannya saja ke tas biar tidak terlihat? Teman saya ini malah membawanya
secara terang-terangan.”
Sandra benar-benar terlihat kesal. Leon mengambil CD di
tangannya.
“Kalau begitu saya bayar dahulu CD ini, Pak! Sekali lagi
saya minta maaf!”Leon berkata dengan tulus. Pak satpam tersenyum padanya.
“Tidak apa-apa!”katanya.
Leon berjalan ke arah kasir.
Saat keluar dari toko musik, Sandra mencekal lengan Leon.
“Heh! Kurang kerjaan, ya?”teriaknya.”Untuk apa ikut campur
urusan orang?”
Leon tersenyum.”Seharusnya kau bilang terima kasih dan aku
akan membalasnya dengan bilang sama-sama!”
Sandra berkacak pinggang.”Dengar, ya! Aku tidak suka orang
sepertimu! Aku hanya akan memperingatkan sekali ini saja! Jangan ikut campur
urusanku, atau kau akan menyesal!”
Leon hanya berdiri dengan tenang.
“Heh! Dengar tidak?”teriak Sandra lagi.Leon menganguk.
Sandra memandang Leon dengan bingung.”Kenapa dia hanya diam
seperti patung?”pikirnya.
“Kau ngerti maksudku nggak?”seru Sandra lagi.
Leon mengangguk untuk kedua kalinya.Sandra menjadi semakin
bingung.”Mana suaramu? Kenapa sekarang kau cuma diam? Mendadak bisu, ya?”
Leon menggeleng.
“Jadi kenapa diam sekarang?”
Benar-benar orang aneh, kata Sandra dalam hati. Tadi di
toko musik bicara panjang lebar, sekarang malah diam seribu bahasa.
“Kenapa? Kau sakit?”tanya Sandra, suaranya agak mlelembut.
Pertanyaan itu membuat Leon terkejut sejenak, akhirnya ia
mengangguk.
“Pokoknya aku tidak mau kau ikut campur urusanku lagi!!
Awas saja!”
Sandra pergi meninggalkan Leon.








