Senin, 09 Juli 2018

Part 2 - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye

Edit Posted by with No comments



Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
by Tere Liye



Part 2

Kota ini maju sekali, meskipun itu harus dibayar dengan berbagai ketidaknyamanan. Siapa yang peduli? Di depan sana juga terlihat dua toko cuci-cetak foto. Sebenarnya pemiliknya satu. Alasan bisnis, terpaksa dibelah dua. Toko sebelah kanan menjadi dealer resmi raksasa negatif film dan kamera dari Negeri Sakura. Toko sebelah kiri menjadi authorized dealer raksasa negatif film dan kamera dari Amerika. Beberapa remaja berkumpul ramai di sana. Mungkin hendak foto dose-up. Belakangan audisi menyanyi, model, bintang sinetron, dan berbagai reality show di teve marak lagi. Dan foto penuh gaya mutlak menjadi jalan pembuka. Mimpi-mimpi kehidupan.
Lima belas menit aku masih berdiri menatap keramaian di seberang jalan. Toko buku ini memutar lagu ringan dengan tempo lambat. Licik memang. Lagu jenis itu disengaja. Juga oleh kebanyakan toko-toko retail modern besar lainnya, seperti supermarket dan toserba. Apalagi kalau bukan untuk menyugesti pengunjung sehingga berbetah-betah berkeliling dan belanja lebih banyak. Berbeda kalau kalian datang ke restoran cepat saji. Mereka akan memutar lagu-lagu cepat. Mengondisikan agar kalian makan cepat-cepat dan segera enyah dari restoran mereka. Karena ada banyak tamu yang membutuhkan meja kosong sedang menunggu di luar, apalagi saat lunch hour atau dinner, musik yang mereka putar semakin cepat. Sama culasnya dengan toko buku ini.
Aku tak tahu gerai fotokopian itu sedang memutar lagu apa. Yang pasti, pasangan tadi sekarang duduk saling merapat di depan meja panjang. Saling berhadapan. Bersiracap. Berbicara dengan gerak tubuh yang begitu mudah dimengerti. Tak memedulikan tatapan karyawan berseragam, apalagi mahasiswa yang duduk di kursi tinggi sebelahnya. Mesra. Aku menelan ludah. Itu berarti musik cinta. Ah, sudahlah!   Setiap malam aku datang ke toko buku ini. Sudah menjadi ritual seminggu terakhir. Satpam toko yang matanya selalu menatap tajam sudah mengenaliku.
Mbak-mbak yang rajin merapikan buku-buku di rak juga sudah tahu. Termasuk dua kasir di dekat eskalator yang berjaga bergantian. Aku membeli satu buku setiap kali ke sini. Bukan buku yang hendak kubaca. Anggap saja sebagai tiket harga masuk karena telah menggunakan lantai dua mereka sebagai tempat menumpahkan segala perasaan. Tempatku tepekur mengenang segalanya. Semua masa lalu itu. Tempat ini menyenangkan. Berjalan-jalan di sepanjang rak buku. Menyentuh satu-dua buku. Membaca sampul belakangnya, membuka-buka buku yang tidak dibungkus plastik.
Menatap pengunjung lain yang sibuk, sedikit-banyak membantuku berdamai dengan perasaan masa lalu. Tempat ini benar-benar berarti banyak bagiku. Menyimpan kenangan penting. "Sendirian, Mbak?" seorang karyawan cowok toko buku basa-basi menegurku. Dia pura-pura membenahi tumpukan bukubelajar-membaca yang sebenarnya sudah sempurna tersusun rapi dua langkah di sebelah kananku. Aku menyeringai datar. Pertanyaan itu pura-pura. Aku tahu persis. Dia tahu, seperti karyawan toko buku lainnya, setiap malam aku datang ke sini selalu sendirian.
Jadi buat apa bertanya? Buat apa? Akhirnya malam ini dia berani juga menyapa. Aku tahu seminggu terakhir dia selalu mencuricuri pandang. Purapura berada di sekitarku saat aku berdiri menatap pemandangan di luar. Dia pasti sudah meneguhkan hati sepanjang sore hanya untuk mengeluarkan suara dan raut muka seregang ini. Membujuk hatinya sepanjang minggu agar berani menegur seorang gadis yang memesonanya. Tak ada salahnya memberikan hadiah atas keberaniannya. Maka aku tersenyum tipis, teramat tipis malah, sedikit menoleh meski tak menatap matanya. Lantas dengan cepat kembali memandang ke depan. Aku sama sekali tak berselera diganggu olehnya. Cowok itu menarik napas pelan. Tersenyum tanggung. Lantas undur diri pelan-pelan. Menunduk.
Aku tak tahu bagaimana kehadiranku setiap malam di toko buku ini bisa menarik perhatiannya. Dan mungkin membuatnya resah sepanjang minggu terakhir. Sama tidak mengertinya saat salah seorang teman lamaku, Adi, melakukan sesuatu yang lebih gila lagi daripada sekadar sapaan cowok tadi setahun silam. Di toko buku ini juga. Waktu itu sama seperti sekarang, musim hujan. Hujan deras turun membungkus kota ini. Suara jutaan butir air yang menghunjam bumi terdengar keras hingga ke dalam. Adi yang "kebetulan" menemaniku berkeliling mencari novel karangan seseorang tiba-tiba menarik tanganku. "Ada yang ingin kutunjukkan padamu!"
Adi menatapku serius. Wajahnya tegang dan cemas, sama seperti cowok yang tadi. "Apa?" Aku mengernyitkan dahi, tidak berselera. "Ayo!" Adi menyeretku, enggan menjelaskan. Aku terpaksa mengikuti. Tarikan tangannya mengencang. Turun ke lantai satu, aku membuntuti dengan tatapan semakin heran saat dia terus menuju hingga keluar toko buku. "Mau ke mana?" aku bertanya penasaran. Adi tak menjawab. Dia melangkah menuju pelataran depan toko buku sambil tetap menarik tanganku. "Payungnya!" Aku mencoba bertahan. Maksudku hendak mengambil payung di penitipan barang. Pelataran itu sedang buncah oleh air hujan.
Bagaimana mungkin menerabasnya? Adi menoleh menggeleng. Tak usah. Aku semakin bingung. Adi berhasil menarikku ke dalam tumpah ruahnya hujan yang membasahi tepi jalan Margonda. Basah kuyup. Dia memegang lenganku. Kami berdiri berhadapan. Aku tak mengerti apa maksud semua ini. Orang-orang yang berdiri di sepanjang jalan sambil membawa payung memperhatikan kami. Orang-orang yang berdiri dan menatap di lantai dua toko buku, yang di bawah di lobi toko buku, yang di gerai fotokopian seberang, dan yang duduk di warung tenda... menatap kami lamat-lamat.

0 komentar:

Posting Komentar