Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
by Tere Liye
Part 2
Kota
ini maju sekali, meskipun itu harus dibayar dengan berbagai ketidaknyamanan.
Siapa yang peduli? Di depan sana juga terlihat dua toko cuci-cetak foto.
Sebenarnya pemiliknya satu. Alasan bisnis, terpaksa dibelah dua. Toko sebelah
kanan menjadi dealer resmi raksasa negatif film dan kamera dari Negeri Sakura.
Toko sebelah kiri menjadi authorized dealer raksasa negatif film dan kamera
dari Amerika. Beberapa remaja berkumpul ramai di sana. Mungkin hendak foto
dose-up. Belakangan audisi menyanyi, model, bintang sinetron, dan berbagai
reality show di teve marak lagi. Dan foto penuh gaya mutlak menjadi jalan
pembuka. Mimpi-mimpi kehidupan.
Lima
belas menit aku masih berdiri menatap keramaian di seberang jalan. Toko buku
ini memutar lagu ringan dengan tempo lambat. Licik memang. Lagu jenis itu
disengaja. Juga oleh kebanyakan toko-toko retail modern besar lainnya, seperti
supermarket dan toserba. Apalagi kalau bukan untuk menyugesti pengunjung
sehingga berbetah-betah berkeliling dan belanja lebih banyak. Berbeda kalau
kalian datang ke restoran cepat saji. Mereka akan memutar lagu-lagu cepat.
Mengondisikan agar kalian makan cepat-cepat dan segera enyah dari restoran
mereka. Karena ada banyak tamu yang membutuhkan meja kosong sedang menunggu di
luar, apalagi saat lunch hour atau dinner, musik yang mereka putar semakin
cepat. Sama culasnya dengan toko buku ini.
Aku
tak tahu gerai fotokopian itu sedang memutar lagu apa. Yang pasti, pasangan
tadi sekarang duduk saling merapat di depan meja panjang. Saling berhadapan.
Bersiracap. Berbicara dengan gerak tubuh yang begitu mudah dimengerti. Tak
memedulikan tatapan karyawan berseragam, apalagi mahasiswa yang duduk di kursi
tinggi sebelahnya. Mesra. Aku menelan ludah. Itu berarti musik cinta. Ah,
sudahlah! Setiap malam aku datang ke toko buku ini.
Sudah menjadi ritual seminggu terakhir. Satpam toko yang matanya selalu menatap
tajam sudah mengenaliku.
Mbak-mbak
yang rajin merapikan buku-buku di rak juga sudah tahu. Termasuk dua kasir di
dekat eskalator yang berjaga bergantian. Aku membeli satu buku setiap kali ke
sini. Bukan buku yang hendak kubaca. Anggap saja sebagai tiket harga masuk
karena telah menggunakan lantai dua mereka sebagai tempat menumpahkan segala
perasaan. Tempatku tepekur mengenang segalanya. Semua masa lalu itu. Tempat ini
menyenangkan. Berjalan-jalan di sepanjang rak buku. Menyentuh satu-dua buku.
Membaca sampul belakangnya, membuka-buka buku yang tidak dibungkus plastik.
Menatap
pengunjung lain yang sibuk, sedikit-banyak membantuku berdamai dengan perasaan
masa lalu. Tempat ini benar-benar berarti banyak bagiku. Menyimpan kenangan
penting. "Sendirian, Mbak?" seorang karyawan cowok toko buku
basa-basi menegurku. Dia pura-pura membenahi tumpukan bukubelajar-membaca yang
sebenarnya sudah sempurna tersusun rapi dua langkah di sebelah kananku. Aku
menyeringai datar. Pertanyaan itu pura-pura. Aku tahu persis. Dia tahu, seperti
karyawan toko buku lainnya, setiap malam aku datang ke sini selalu sendirian.
Jadi
buat apa bertanya? Buat apa? Akhirnya malam ini dia berani juga menyapa. Aku
tahu seminggu terakhir dia selalu mencuricuri pandang. Purapura berada di
sekitarku saat aku berdiri menatap pemandangan di luar. Dia pasti sudah
meneguhkan hati sepanjang sore hanya untuk mengeluarkan suara dan raut muka
seregang ini. Membujuk hatinya sepanjang minggu agar berani menegur seorang
gadis yang memesonanya. Tak ada salahnya memberikan hadiah atas keberaniannya.
Maka aku tersenyum tipis, teramat tipis malah, sedikit menoleh meski tak
menatap matanya. Lantas dengan cepat kembali memandang ke depan. Aku sama
sekali tak berselera diganggu olehnya. Cowok itu menarik napas pelan. Tersenyum
tanggung. Lantas undur diri pelan-pelan. Menunduk.
Aku
tak tahu bagaimana kehadiranku setiap malam di toko buku ini bisa menarik
perhatiannya. Dan mungkin membuatnya resah sepanjang minggu terakhir. Sama
tidak mengertinya saat salah seorang teman lamaku, Adi, melakukan sesuatu yang
lebih gila lagi daripada sekadar sapaan cowok tadi setahun silam. Di toko buku
ini juga. Waktu itu sama seperti sekarang, musim hujan. Hujan deras turun
membungkus kota ini. Suara jutaan butir air yang menghunjam bumi terdengar
keras hingga ke dalam. Adi yang "kebetulan" menemaniku berkeliling
mencari novel karangan seseorang tiba-tiba menarik tanganku. "Ada yang
ingin kutunjukkan padamu!"
Adi
menatapku serius. Wajahnya tegang dan cemas, sama seperti cowok yang tadi.
"Apa?" Aku mengernyitkan dahi, tidak berselera. "Ayo!" Adi
menyeretku, enggan menjelaskan. Aku terpaksa mengikuti. Tarikan tangannya
mengencang. Turun ke lantai satu, aku membuntuti dengan tatapan semakin heran
saat dia terus menuju hingga keluar toko buku. "Mau ke mana?" aku
bertanya penasaran. Adi tak menjawab. Dia melangkah menuju pelataran depan toko
buku sambil tetap menarik tanganku. "Payungnya!" Aku mencoba
bertahan. Maksudku hendak mengambil payung di penitipan barang. Pelataran itu
sedang buncah oleh air hujan.
Bagaimana
mungkin menerabasnya? Adi menoleh menggeleng. Tak usah. Aku semakin bingung.
Adi berhasil menarikku ke dalam tumpah ruahnya hujan yang membasahi tepi jalan
Margonda. Basah kuyup. Dia memegang lenganku. Kami berdiri berhadapan. Aku tak
mengerti apa maksud semua ini. Orang-orang yang berdiri di sepanjang jalan
sambil membawa payung memperhatikan kami. Orang-orang yang berdiri dan menatap
di lantai dua toko buku, yang di bawah di lobi toko buku, yang di gerai fotokopian
seberang, dan yang duduk di warung tenda... menatap kami lamat-lamat.



0 komentar:
Posting Komentar