by Charon
“ Hai! “ Sandra memerhatikan cowok itu dari
atas sampai bawah .
Pakaiannya sangat rapi, rambutnya juga
dipotong pendek di atas kerah . Sangat kontras dengan Sandra yang berantakan .
“ Tipe murid
baik! “ desahnya dalam hati .
“ Eh, kau
murid baru, ya? “ tanya cowok itu . “ Rasanya aku belum pernah melihatmu!”
Sandra tersenyum kecil . “ Ya! Baru pindah
hari ini! “
“ Kalau
begitu, selamat datang! “ katanya lagi .
Sandra
mendesah . Dia tidak mau bergaul dengan murid seperti cowok di hadapannya . Terlalu
membosankan .
“ Nggak usah
bersikap ramah! “ tegas Sandra .
Kata-kata itu
membuat si pemain piano kaget . “ Kenapa? “
Sandra
menatapnya tajam .
“ Kau akan tahu
satu atau dua minggu lagi, saat kau mengucapkan selamat tinggal padaku! “
Setelah itu
Sandra membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan . Sementara itu
Leon, si pemain piano, tertawa perlahan, Baru kali ini dia bertemu cewek yang
sikapnya lain dari yang lain . Ketika bel tanda masuk berbunyi, Sandra
melenggang masuk kelas dengan santai . Teman-teman sekelasnya menoleh ke arahnya
dengan tatapan ingin tahu . Sandra yakin mereka pasti akan membicarakan dirinya
seharian ini .
Matanya
melirik pakaian seragam yang dikenakan teman-teman perempuannya . Semua baju
seragam dimasukkan ke dalam rok dengan rapi, dan di pinggang mereka melingkar
ikat pinggang hitam serupa . Rupanya Mama Sandra telah memasukkan dia ke
sekolah beretiket tinggi . Sandra jadi ingin tersenyum sendiri . Pak Donny,
guru wali kelas 3 IPA2, yang juga guru fisika, mengenalkan Sandra pada
teman-teman sekelasnya .
“ Ada yang
mau kau sampaikan, Sandra? “ lanut Pak Donny . Ia sudah tahu bahwa murid baru
ini murid bermasalah .
Sandra menjawab dengan singkat . “ Tidak . “
Pak Donny
sedikit terkejut . “ Tidak ada? Tidak mau menjelaskan tentang hobimu atau yang
lainnya? “
Sandra
memandang Pak Donny dengan tatapan bosan . “ Tidak! “
“ Baiklah . “
Kata Pak Donny, menyerah . “ Kau boleh duduk . “
Ketika Sandra berjalan ke arah tempat duduknya,
Pak Donny melihat blus seragam Sandra yang setengah keluar dari roknya .
“ Sandra! “ katanya
lagi . “ Bisakah kau merapikan pakaian seragammu? “
Guru wali
kelas yang cerewet sekali! Keluh Sandra dalam hati . Sandra menoleh ke arah Pak
Donny, lalu dengan tenang sengaja mengeluarkan seluruh blus seragamnya dari roknya
.
Setelah itu
dia duduk di tempat duduknya . Pak Donny mendesah melihat tingkah laku murid
barunya itu tetapi tidak mengatakan apaapa . Tak berapa lama kemudian dia sibuk
menjelaskan rumus rumus di papan tulis . Sandra mendengarkan penjelasan
tersebut sambil menguap lebar . Hari ini bakal lama sekali, pikir Sandra tidak
senang .
Pelajaran
olahraga adalah satu-satunya pelajaran yang menarik minat Sandra. Dia tidak
perlu merasa bosan mendengarkan rumus-rumus aneh di dalam ruangan sementara
semua orang memperhatikan sang guru. Sandra lebih suka udara terbuka. Dan
satu-satunya kesempatan hanya saat pelajaran olahraga. Dia memukul bola voli di
tangannya keraskeras. Bola tersebut melambung tinggi ke daerah lawan dan jatuh
tanpa ada yang bisa mengembalikkannya. Sandra tertawa.
Dia suka
saat-saat seperti ini. Sandra menutup matanya dan menghirup udara segar. Setelah
itu dibukanya mata dan tanpa sengaja tatapannya beradu dengan seseorang. Si
cowok pemain piano itu memerhatikan dirinya dari lantai dua gedung sekolah. Sandra
tidak senang kalau ada orang yang diam-diam memerhatikannya. Dibalasnya tatapan
cowok itu dengan sinis. Sandra mengalihkan pandangannya pada teman di sebelahnya.
“Hei!” katanya.
“Kau tahu
nama cowok itu?”
Temannya,
yang memang agak takut dengan perangai Sandra, langsung menjawab. “Ya. Leon!“
Sandra menatap cowok yang bernama Leon itu
sekali lagi dan memberikan tatapan peringatan padanya. Saat Sandra mendapat
giliran untuk serve bola, dia melambungkan bola tersebut tepat ke arah muka
Leon. Di lantai dua, dalam perjalannya kembali dari toilet, Leon tidak
menyangka akan melihat si Rambut Merah yang ditemuinya tadi pagi di lapangan
voli. Ia menatap gadis itu.
Namun gadis
itu marah dan melambungkan bola ke arahnya. Sesaat sebelum bola tersebut
mengenai mukanya, Leon menghindar. Bola tersebut jatuh tak jauh dari tempatnya
berdiri. Kemudian dia mengambil bola voli tersebut dan menatap si Rambut Merah.
Dengan tenang dilemparkannya bola tersebut padanya sambil tersenyum, lalu masuk
ke kelasnya. Sandra dengan segera menangkap bola tersebut dengan wajah kesal.
*** 2



0 komentar:
Posting Komentar