Senin, 09 Juli 2018

3600 Detik - Part 2

Edit Posted by with No comments


3600 Detik
by Charon

Part 2


 “ Hai! “ Sandra memerhatikan cowok itu dari atas sampai bawah .
 Pakaiannya sangat rapi, rambutnya juga dipotong pendek di atas kerah . Sangat kontras dengan Sandra yang berantakan .
“ Tipe murid baik! “ desahnya dalam hati .
“ Eh, kau murid baru, ya? “ tanya cowok itu . “ Rasanya aku belum pernah melihatmu!”
 Sandra tersenyum kecil . “ Ya! Baru pindah hari ini! “
“ Kalau begitu, selamat datang! “ katanya lagi .
Sandra mendesah . Dia tidak mau bergaul dengan murid seperti cowok di hadapannya . Terlalu membosankan .
“ Nggak usah bersikap ramah! “ tegas Sandra .
Kata-kata itu membuat si pemain piano kaget . “ Kenapa? “
Sandra menatapnya tajam .
“ Kau akan tahu satu atau dua minggu lagi, saat kau mengucapkan selamat tinggal padaku! “
Setelah itu Sandra membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan . Sementara itu Leon, si pemain piano, tertawa perlahan, Baru kali ini dia bertemu cewek yang sikapnya lain dari yang lain . Ketika bel tanda masuk berbunyi, Sandra melenggang masuk kelas dengan santai . Teman-teman sekelasnya menoleh ke arahnya dengan tatapan ingin tahu . Sandra yakin mereka pasti akan membicarakan dirinya seharian ini .
Matanya melirik pakaian seragam yang dikenakan teman-teman perempuannya . Semua baju seragam dimasukkan ke dalam rok dengan rapi, dan di pinggang mereka melingkar ikat pinggang hitam serupa . Rupanya Mama Sandra telah memasukkan dia ke sekolah beretiket tinggi . Sandra jadi ingin tersenyum sendiri . Pak Donny, guru wali kelas 3 IPA2, yang juga guru fisika, mengenalkan Sandra pada teman-teman sekelasnya .
“ Ada yang mau kau sampaikan, Sandra? “ lanut Pak Donny . Ia sudah tahu bahwa murid baru ini murid bermasalah .
 Sandra menjawab dengan singkat . “ Tidak . “
Pak Donny sedikit terkejut . “ Tidak ada? Tidak mau menjelaskan tentang hobimu atau yang lainnya? “
Sandra memandang Pak Donny dengan tatapan bosan . “ Tidak! “
“ Baiklah . “ Kata Pak Donny, menyerah . “ Kau boleh duduk . “
 Ketika Sandra berjalan ke arah tempat duduknya, Pak Donny melihat blus seragam Sandra yang setengah keluar dari roknya .
“ Sandra! “ katanya lagi . “ Bisakah kau merapikan pakaian seragammu? “
Guru wali kelas yang cerewet sekali! Keluh Sandra dalam hati . Sandra menoleh ke arah Pak Donny, lalu dengan tenang sengaja mengeluarkan seluruh blus seragamnya dari roknya .
Setelah itu dia duduk di tempat duduknya . Pak Donny mendesah melihat tingkah laku murid barunya itu tetapi tidak mengatakan apaapa . Tak berapa lama kemudian dia sibuk menjelaskan rumus rumus di papan tulis . Sandra mendengarkan penjelasan tersebut sambil menguap lebar . Hari ini bakal lama sekali, pikir Sandra tidak senang .
Pelajaran olahraga adalah satu-satunya pelajaran yang menarik minat Sandra. Dia tidak perlu merasa bosan mendengarkan rumus-rumus aneh di dalam ruangan sementara semua orang memperhatikan sang guru. Sandra lebih suka udara terbuka. Dan satu-satunya kesempatan hanya saat pelajaran olahraga. Dia memukul bola voli di tangannya keraskeras. Bola tersebut melambung tinggi ke daerah lawan dan jatuh tanpa ada yang bisa mengembalikkannya. Sandra tertawa.
Dia suka saat-saat seperti ini. Sandra menutup matanya dan menghirup udara segar. Setelah itu dibukanya mata dan tanpa sengaja tatapannya beradu dengan seseorang. Si cowok pemain piano itu memerhatikan dirinya dari lantai dua gedung sekolah. Sandra tidak senang kalau ada orang yang diam-diam memerhatikannya. Dibalasnya tatapan cowok itu dengan sinis. Sandra mengalihkan pandangannya pada teman di sebelahnya.
“Hei!” katanya.
“Kau tahu nama cowok itu?”
Temannya, yang memang agak takut dengan perangai Sandra, langsung menjawab. “Ya. Leon!“
 Sandra menatap cowok yang bernama Leon itu sekali lagi dan memberikan tatapan peringatan padanya. Saat Sandra mendapat giliran untuk serve bola, dia melambungkan bola tersebut tepat ke arah muka Leon. Di lantai dua, dalam perjalannya kembali dari toilet, Leon tidak menyangka akan melihat si Rambut Merah yang ditemuinya tadi pagi di lapangan voli. Ia menatap gadis itu.
Namun gadis itu marah dan melambungkan bola ke arahnya. Sesaat sebelum bola tersebut mengenai mukanya, Leon menghindar. Bola tersebut jatuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian dia mengambil bola voli tersebut dan menatap si Rambut Merah. Dengan tenang dilemparkannya bola tersebut padanya sambil tersenyum, lalu masuk ke kelasnya. Sandra dengan segera menangkap bola tersebut dengan wajah kesal.

*** 2

0 komentar:

Posting Komentar