Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
by Tere Liye
Part
1
Pukul
20.00: Saat Semuanya Berawal
MALAM
ini hujan turun lagi. Seperti malam-malam yang lalu. Menyenangkan. Membuat
suasana di luar terlihat damai menenteramkan. Tidak deras benar. Hanya gerimis.
Itu pun jarang-jarang, tetapi cukup untuk membuat indah kerlip lampu. Aku
menghela napas panjang. Tanganku pelan menyentuh kaca yang berembun. Dingin
seketika menyergap ujung jari, mengalir ke telapak tangan, melalui pergelangan,
menerobos siku, bahu, kemudian tiba di hatiku. Membekukan seluruh perasaan.
Mengkristalkan semua keinginan.
Malam ini, semua cerita harus usai. Dari
lantai dua toko buku paling besar di kota ini, kalian bisa melihat dengan
leluasa pemandangan jalan besar yang ramai persis di depannya, juga jalan
paling besar di kota ini. Jalan itu dibelah pembatas setinggi satu jengkal. Ada
lampu putih bundar setiap beberapa meter di pembatas jalan itu, serta pot semen
dengan rumpun bunga, meskipun terlihat tak cukup rimbun. Lampu putih bundar
itulah yang terlihat indah. Berbaur dengan ratusan siluet cahaya lampu mobil.
Dinding tembok toko buku ini diganti seluruhnya menjadi kaca-kaca tebal.
Berdiri tepekur di sini, kalian bak masuk dalam sebuah akuarium. Bebas memandang,
bebas dipandang.
Arsitektur
gaya avant-garde. Kaca, bukan beton, menjadi pilihan terbaik pembatas ruangan.
Di seberang jalan berjejer rapi gerai fotokopian yang besar dan modern. Lampu
neon puluhan watt, meja panjang untuk menerima forokopian, dan karyawan-karyawan
berseragam terlihat jelas dari atas sini. Beberapa orang berpenampilan
sebagaimana layaknya mahasiswa, terlihat menunggu di kursi putar tinggi.
Mungkin menunggu fotokopian untuk bahan ujian besok lusa. Mungkin pula menunggu
hujan reda. Ada sebuah motor merapat. Dua penumpangnya turun sambil melepas jas
hujan. Sepasang. Yang wanita berkerudung putih. Yang lelaki merengkuh bahunya.
Mereka
masuk ke salah satu gerai fotokopian. Tak mungkin mereka akan memfotokopi
"undangan pernikahan" di gerai itu, tetapi cukup sudah untuk mengerti
betapa mesranya mereka. Aku menghela napas panjang. Beberapa angkot biru
seperti biasa berhenti di bibir jalan semaunya, Menurunkan penumpang semaunya.
Membuat lebih panjang lagi kemacetan malam ini. Sopir angkot itu sedikit pun
tak peduli, meski klakson mobil di belakangnya menyalak buas. Penumpang juga
semaunya mengembangkan payung sebelum kaki melangkah turun dari mobil. Membuat
penumpang lain yang terkena terpaan payung mengomel.
Namun,
ada yang diuntungkan oleh kejadian itu. Beberapa remaja tanggung yang
bergerombol di seberang jalan yang hendak menyeberang. Angkot yang berhenti
semaunya itu membantu mereka. Bergeraklah iringan ketawa-ketiwi itu. Malam
Minggu. Mereka punya banyak alasan untuk keluar rumah. Warung-warung tenda
makanan memadati jalan sepanjang mata memandang, Dipenuhi anak muda yang datang
dua-tiga.
Cuaca
dingin dan rinai hujan membuat kepulan asap dari kuali nasi goreng, tungku
bakar sate, panci soto, dandang ayam sayur, dan puluhan jenis masakan lainnya amat
mengundang selera. Sayang, malam ini aku sama sekali tidak lapar! Dari lantai
dua ini, kalian juga bisa melihat pekerja konstruksi bakal town square dua
ratus meter di sisi kiri gerai fotokopian tadi. Lampu besar bekerlap-kerlip
dari belalai peralatan yang menarik-turunkan besi-besi, batu bata, dan bahan
bangunan lainnya. Para pekerja yang memakai helm tak peduli dengan hujan.
Mereka sedang mengejar target peresmian enam bulan lagi. Bersaing dengan dua
pusat perbelanjaan lainnya yang serempak dibangun.



0 komentar:
Posting Komentar